Minggu, 03 Februari 2019

AWAK KAKAKU

Kepada Awak adalah serial cerpen yang mengisahkan sebuah pengungkapan perasaan. Akan ada cerita yang lainnya. 




***
Setelah hari itu aku masih belum tahu perasan apa yang ada di dalam hati. Sedih, senang atau bahagia. Aku tidak tahu. Ingin  aku bahagia atas pernikahannya. Atas kenyataan bahwa ia tetap berada di Pulau Borneo ini. Ia tidak pulang ke negeri Sumatra meninggalkan kenangan kami. Ia masih aku jangkau, masih dapat ku lihat, aku bersyukur saat itu. 

Namun jauh di dalam hatiku aku merasa keberatan. Aku merasa sakit tiap kali kupandang wajah suaminya. Kemudian aku teringat hari-hari yang aku habisi bersama dia. Hari dimana saat itu aku berpikir tidak membutuhkan sipapun lagi atas kebahagianku. Cukup ada Ibu, Bapak dan Dia aku sudah senang.

 Hari dimana pada bangun pagiku dia yang ada di samping. Siang yang terik, sabarku nanti dengan menunggu sore. Sore yang kusambut dengan semangat. Lalu malam yang penuh canda tawa bersama dia. 

Aku masih sungkan membayangkan semua itu berakhir. Kenyatan tidak ada lagi orang yang akan aku jahili. Mendengar ceritaku, atau aku ajak keliling-keling kota dengan alasan “Aku penasaran dengan jalan ini”. 

Aku masih enggan untuk membiarkan hatiku berbicara. Sedihku tumpah dihadapannya. Aku takut dianggap tidak menghargai hari bahagianya. Tapi, sekuat jiwa raga aku pendam segala kekhawatiranku. Kesedihanku, dan rasa kehilanganku. Semua itu tidak dapat aku bohongi. Bahwa pada kenyatannya aku bersedih atas hari kebahagiannya.

Berhari-hari aku tahan bulatan sebesar bola kasti mengganjal di kerongkongan. Menyekat sakit. Hatiku terus berkata “Aku kuat aku tidak akan meangis”. Untuk pertama kali dalam hidup aku sadar dengan warasnya berusaha untuk tidak manja membiarkan butiran bening itu luruh dengan mudah.

Lalu malam kembali hadir. Ruang kosong di hati itu kembali terangin oleh dinginya kenangan. Aku tatap tanganku yang kini hanya sepi. Samar-samar bayangan masa bersama itu kembali hadir. Tangannya yang selalu aku pegang tiap akan beranjak memjamkan mata. Atau tawaku atas tingkah jail untuk mengaggu dia yang akan terlelap. 

Bagaimana hari yang kau lewati nanti tanpa dia nanti?

Kemudian muncul kata pembenaran “Bukan perpisahan yang aku takutkan. Tapi pertemuan yang aku sesalkan”. Pedih melihat kini ia tertawa bahagia sementar hatiku tercabar kesedihan luar biasa. Aku ingin waktu lebih lama bersamanya, aku ingin masih bisa menggengam tangannya. Aku ingin temani aku dulu saat ‘orang’  itu tiada kabarnya, tapi dia tidak bisa. 

Sadar! Aku menyadarkan pikiranku yang kacau itu. Sadarlah hati bahwa ia tidak pergi meninggalkan aku. Ia masih di kota ini. Kita masih tinggal bersama di rumah yang sama. Mengapa terus kau khawatirkan hari-hari kita? Mengapa kau terus merasa luka. Wahai hati mengapa engkau terus bersedih?

Aku masih enggan mengakui. Diam-diam dalam kesepianku,berjalan jauh mencari tempat untuk sendiri. Tempat untuk bebas kumengakui kesedihan melalui air mata, yang menetes keluar tanpa rasa bersalah menangisi hari kebahagiannya. 

Aku tidak mengerti hatiku saat itu. Aku tidak mengerti aku harus bagaimana. Aku tidak mampu mengendalikan susana emosiku. Aku tidak kuat. Aku--aku benar-benar butuh pertolongan. Selian dapat menagis dengan puas.

Kitdak mampuanku, membuatku merasa menjadi seseorang yang payah. lemah! Manja! Aku terus mengutuk diriku. Jika ia heran kepadaku yang terus menangis. Aku lebih ingin menghantam kepalaku ke dinding sambil berkata “Wahai kepala apa yang mambuatmu menyedihkan begini. Ku mohon jangan menyiksa diri seperti ini. Bukan kah cinta cukup meyaksikan ia bahagia?”. Sayangnya aku tidak begitu berani.

Jika ia dan suaminya kelelahan memahami apa mauku. Aku lebih lelah mengartikan apa inginku. Lelah mengendalikan rasaku, aku teramat letih berusaha susah payah untuk terlihat “I’m oke” jika sebetulnya dihatiku luluh lantah tak beraturan. Sedih kehilangan.

Adakah di dunia ini yang mengerti bahwa aku kehilangan sosok kakakku. Aku dipisahkan oleh suaminya. Keberadanku digantikan oleh sinar sang suami yang kini menjadi pusat hidupnya.

Aku khwatir tak ada lagi waktu untuk berbicara denganku. Maka semua yang dulu miliknya yang aku punya beralih, aku merasa iri. Aku cemburu.

Iya. Aku cemburu. Aku tidak rela. Aku egois. Aku masih butuh beberapa waktu bersama dia. Aku belum siap dengan kebahagian yang mengejutkan ini. Apakah Tuhan  ingin mengajarkan aku untuk lebih dewasa menjalani hidup di dunia yang penuh penderitan ini?!

Aku teramat takut keberadaanku hilang dihidupnya. Sebab selama ini aku memberikan segalanya kepada dia karena itu membuatku merasa ada. 

Aku yang egois takut kehilangan tidak dapat menyita waktunya untuk mendengarkan aku bercerita. Mengajaknya pergi mengelili kota menamni aku. Sosok yang dapat aku jahili untuk menghiburku. Atau teman untuk tertawa.

Karenya ketika ia bercanda dan tertawa bersama suami. Hatiku perih, menelan sedih sendiri. Ketika ia pamit jalan-jalan sore aku iri. Ketika ia habiskan waktu sehariannya hanya berdua di kamarnya aku menderita.

“Aku butuh kakak” isakku dalam tangis.

Banyak hal dibenakku. Aku melamun. Mataku menatap kosong, mulutku melompong. Dalam diamku tak bermakna itu sayup-sayup bisikan menuntut terdengar ditelingaku. Lalu hatiku berbisik.
“Bagiman bisa dia bersenang-senang diatas penderitaanmu. Ayo ngomong ke dia kalau kau mendrita krenanya”

Itu menjadi permulaan setetes nila rusak susu sebelanga. Menciptakan amarah dan pertikaian. Kebencian keduanya kepadaku, yang kemudian membuatku merasa bersalah dan ingin pergi menjauh dari mereka. Namun sakali lagi, hati ini masih menangis kesediham. Lagi aku tidak mengerti dengan hatiku, apa maunya.

Warasku ingin segera ceria dan berbahagia tanpa dia. Tapi hatiku selalu lemah mencarinya dan mengingatnya. Andai bisa kupinta kepada Tuhan fisk dan perasan yang berbeda yang dapat jiwaku hinggapi sebagai rumah, aku pasti sudah menjadi orang lain. 

Pernikahan itu menjadi neraka bagiku, aku tersiksa tiap kali mengingatnya. Aku menangisinya sepanjang waktu. Minggu, hari dan jam. Aku tidak fokus dengan duniaku sendiri.

Orangtuaku khawatir aku menjadi gila. Mereka geleng kepala keheranan. Pasalnya yang menikah itu adalah kakak bukan kekasihku. Kuliahku kacau balau. Dunia terasa hampar dan tak berselera. 

Aku menunggu waktu terlewati dengan bengong. Dalam hidupku hanya hampa dan kekosongan. Aku bagai raga tak berjiwa. Mungkin jasad tanpa nyawa. 

Padamulanya aku belajar ikhlas. Susah dan berat aku mencoba. Namun kegagalan yang aku temui. Beribu kali aku berlatih tertawa tanpa bahagia. Tersenyum meski hampa. Aku mencari sejuta hal yang dapat menghiburku. Semua terasa hambar. Konyol dan menjengkelkan.

Aku pergi menyusuri jalan. Memandang kiri dan kanan, menarik nafas dengan rilek. Membujuk hati “Lihat susana ini. Alhamdulillah kita masih diizinkan hidup. Kerlap-kerlip lambu di cafe itu, indahkan?” namun hatiku seakan enggan menjawab ia seolah menolak bujukanku. Ia masih mengeras. Lalu aku pandang lagi apa yang ada di sekitarku. Termasuk sepasang muda mudi yang tengah tertawa bahagia.

“Apakah aku membutuhkan itu?” batinku. Otakku membenarkan “Ya memang setahuku, kesedihan itu hanya dapat dialihkan. Mengapa tidak mencari pacar saja”

Lalu aku meyakini diriku sendiri “Apakah aku benar-benar membutuhkan seorang pacar? Agar dapat kembali tersenyum bahagia? Ada sosok yang embuatku tersenyum. Menghburku. Menjagaku dan menemaniku.”

Hatiku merespon tidak “Kasihan kalau ia hadir hanya menjadi pelampiasan kesedihanmu. Hanya kan menimbulkan masalah  baru. Tidak kah kau bosan menyusahkan aku? Kehilangan kakak saja sudah membuatku repot. Ditambah hadirnya dia dengan sejuta masalah yang  ia bawa”.

Aku tersadar, “Benar. Itu melanggar prinsip. Aku tidak akan pacaran apa pun yang terjadi. Biraku hadapi ini sendiri, biar kunikmati kesedihan ini. Biar. Tak mengapa tiada yang peduli. Asal aku tidak boleh meelpas jubah pendirian. Aku wanita, dipandang hebat sebab prinsipnya. Yakin lah! Yakin lah Tuhanmu bersama kita Dian.”

Motorku melaju menembus dinginya malam. Kembali ke tempat tinggal yang baru. Tempat penuh azam hidup lebih baik, bersama hati lama yang masih terluka. 

“Ruang kamar ini harus terang, biar sadar tidak boleh menangis.” Salah satu janjiku pada diri sendiri, yang berkali-kali diingkari. Menangis tidak berhenti.

“Kamu tuh sering nangis ditinggal nikah sama pacarmu kah?” tanya para tetangga di kos itu.

Aku tersenyum “Mengingat dosa” alibi ku. 

Dalam terangnya cahaya dikamar itu. Aku hanya bisa melewati hari-hariku dengan kesedihan yang lebih dapat kuterima. Menunggu waktu berlalu dengan mengendalikan rasa dan ragaku. “Aku yakin kau mampu, aku yakin kau lebih bahagia”. Walau aku tidak tahu kapankah berakhirnya dan kapan kah itu terjadi.

Aku masih tetap menangis, mengingatnya penuh kesedihan. Mengenangnya penuh kesakitan. Segala macam rupa emosi. Rindu, cinta dan benci. Aku tidak tahu mana yang terbaik. Aku hanya berusaha pasrah atas kehendak Tuhan untuk hal-hal yang menimaku nantinya. Yakin sepenuhnya bahwa hal baik akan terjadi. Hal baik akan terjadi.

***

Kepada Awak yang aku sebut kakak. 

Sedihku saat itu bukanlah luka, melainkan cinta. 

Kepedihanku saat itu bukanlah benci, melainkan kehilangan.

Kepada Awak yang ku namai kakak.

Sekuat tenaga ku berusaha jadikan diri yang terbaik.

Semampuku, melampaui ambang batas untuk Kebahagianmu.

Kepada Awak, mulanya aku ingin lebih kuat untukmu.

Namunku salah engakulah  yang membuatku lebih kuat.

Awak, kita tidak pernah berikrar menjadi sudara. 

Tapi rasa yang menempatk diri pada posisi.

Bila engaku baca ini. Ku ingin kau tahu. 

Bahwa aku menyesal atas hal-hal diluar kemampuanku.

Awak menempa diri ini  menjadi lebih hebat.

Awak mengajari arti cinta secara waras.

Melatih ku dalam sabar dan ikhlas.

Awak, terimaksih. Aku mencintaimu.

By : Dear Dian
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar