Jumat, 27 Oktober 2017

Langit Malam

Dikhianati bukan saja hanya perkara ditinggal pergi, ataupun dicampakkan dari kehidupanmu. Namun, tidak terlibat masuk dalam hitungan dikhianati. Lantas, engakau memintanya berusaha keras untuk memahmimu. Kemudian ia menjadi yang paling mulia karena sabarnya.
           

(Sumber :Disini)
 Malam ini dan malam tiga tahun yang lalu sama. Seperti sebuah film yang memutar kejadian lama. Aku pun terbawa mengingat kejadian itu.
            Pada  sebuah malam yang ku anggap sama dengan malam biasanya. Masih dengan wajah polos dan tingkah kekanak-kanakan ku. Kita bergurau di teras rumah. Langit malam kala itu cerah. Berbulan indah.
            Dengan gilanya pula aku bercerita segala hal padamu. Aku sungguh bodoh tidak merasa gelagat aneh padamu malam itu. Aku tidak memperhatikan matamu. Intonasi nada bicaramu. Karena aku merasa semua masih sama.
            Hingga pada titik aku sedang tertawa terpingkal-pingkal seperti biasanya. Tiba-tiba kamu berkata “Jumat aku lamar Mia”.
Aku yang masih tertawa sontak tersedak mendengar yang kamu katakan. Kamu tahu? Tentu saja tidak. Aku atur perasaanku “Benarkah? Wah... Alhamdulillah akhirnya kalian menikah juga.” Aku tersenyum manis “Selamat ya Tyas” kataku.
Malam itu pula setelah kau memberi tahu kabar itu. Dirimu berpamit pulang.
“Aku pulang dulu ya.” Pamitmu.
“Iya”
            Dirimu berjalan meninggalkan teras rumah dan semakin jauh tak kelihatan di telan gelapnya malam. Setelah kepergianmu, aku terduduk lemas mencoba memahami kabar yang barusan ia katakan.
            Ah kamu. Mengaku sahabat tetapi aku juga sama seperti orang lain yang tahu kabarmu paling akhir. Bahkan kabar itu sudah aku dengar lebih dulu dari nenek Mia mu itu. malam ini adalah malam Senin. Kamu mengabariku di hari ke empat.
            Aku mengadahkan kepalaku menghembus nafas dengan keras. Dadaku terasa sesak. Sangat sesak. Tidak habis pikir olehku, mendengar kabarmu dari tetangga dan baru kamu kabari aku secara langsung di hari ke empat. Tapi lagakmu mengaku aku adalah sahabatmu di muka umum.
            Ah... aku nya saja yang terlalu ber-ekspetasi kejauhan. Berharap kamu akan selalu cerita tentang hidupmu, teramasuk kisah cintamu dengan Mia. Misalnya seperti dirimu meminta pendapatku tentang niatmu yang akan melamar Mia. Atau hal lain seperti kamu akan mengenalkanku pada Mia dan mengakrabkan aku dan dia seperti kita.
            Aku tertawa dalam tangis piluku. Faktanya aku terlalu bodoh. Jelas saja kamu tidak akan lakukan itu. Jelas karena itu privasimu, iya kan? Wajar saja.
            Lantas pada hari H yang telah dirimu rencanakan. Aku enggan hadir dalam hari pentingmu. Aku lebih memeilih berdiam diri di rumah sambil asyik nonton tv. Aku sudah enggan peduli pada mu. Pada semua tentangmu.
            Karena sejak awal tidak pernah ada aku di dalam sana. Lantas buat apa kamu berharap aku datang? Memintaku untuk datang? Toh aku juga sama seperti orang lain tahu dari neneknya. Ya sekali lagi karena aku bukan saudaramu apa lagi keluargamu.
            Agar orang-orang melihat bahwa kita adalah sahabat terhebat di kampung ini? Kamu adalah yang terbaik. Dan aku adalah yang tersetia, hingga mengantarkan mu pada proses lamaran? Fakatanya baik kamu dan keluargamu tidak pernah melibatkan aku. Haruskah aku berpura-pura mengerti dan paham jika di tanya orang-orang tentangmu? Kamu pikir aku ini juru bicara mu.
            Biar saja orang melihat bahwa dirimu memang bukan yang terbaik. Kita bukanlah yang terhebat dan aku bukanlah yang tersetia. Biar saja.
            “Han, gimana acara lamarannya sahabatu itu tadi malam?” tanya tentanggaku ketika aku sedang beli kecap di warung.
            “Gak tau buk. Gak datang”
            “Lah? Kenapa to?”
            “Kui kan acar keluarga bu. Aku boten keluarga ne.”
            “Koekan sahabat sejati ne nduk.”
            “Gur sahabat buk. Udu keluarga.”
            “Podo ae to nduk. Wong nengdi-nengdi karo koe.”
            “Wes lewih sak tahun nengdi-nengdi e karo Mia buk.”
            “Yo sayang to saiki pegatan.”
            “Hahaha. Pegatan opo to buk? Biasa ae buk. Saiki atau enggko. Iki pasti bakal terjadi.”
            “Dadi wes gak shabatan maning?”
            “Enggeh buk.” Aku mengangguk.
            “Yo sayang to.”
            “Lewih gak penak wes due bojo tapi esih lengket ae karo bojo wong buk. Ra ilok”
            “Aku kok sedih yo nduk.”
            “Hahaha ibuk ibuk” ku peluk tetanggaku yang meneteskan air mta itu.
            Ya begitu lah kisahku. Persahabatan kami yang masyur di desa kecil ini. Penuh kisah yang membuat orang bahagia melihat kami. Bahkan mereka menganggap kami seperti seorang kakak dan adik. Sayangnya cuma mereka yang menganggap seperti gitu. Beda dengan aku, dia, keluarganya dan Mia.
            “Kamu nyapo gak datang neg acaraku?” tanyanya ketika bertemuku di jalan.
            “Aku minta maaf. Tapi aku gak pantas datang Yas.”
            “Bisa-bisanya ngomong gitu. Kayak dengan orang lain aja”
            “Loh aku memang orang lain, yang berekspetasi kelebihan nganggap kamu sahabatku. Aslinya nol besar” jawabku cepat.
            “Kamu kok ngomong gitu sih.”
            “Sahabat macam apa yang ngabarin di hari keempat. Dan aku gak pernah tau hub kamu dengan dia seperti apa. Sementara kamu nuntut aku bercerita semua tidak ada rahasia antara kita. Tapi kamu? Ketika ku coba ingin tau kamu bertahan di balik tameng privasi” kemudian aku pergi.
            Malam ini sama saja. Hanya berbeda tipis dengan masa tiga tahun silam itu. Aku baru di beri kabar oleh temannya bahwa ia sedang proses ta’aruf dengan seseorang setelah aku cukup lama di kampung orang.
            Aku menghela nafas, bersyukur dan berusaha lebih memahami keadaan. Walau ngilu terasa sebab deja vu peristiwa serupa. Namun, agaknya kali ini aku harus sedikit menurunkan ego, bersedia hadir di acara lamarannya.
            Percaya atau tidak, ia mengabariku secara langsung hari ke empat sebelum lamaran. Aku menghembus nafas keras sambilmenggeleng-geleng kepala. Setidaknya, aku lakukan yang terbaik karena menganggapnya sahabatku. Sisanya terserah dia.
-Fin-

Zea Zareen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar