Selasa, 26 September 2017

Empty

Pada sebuah kerinduan akan sebuah masa hening tak berisi yang kau sebut Kosong. Pada masa yang ku rasa sendiri. Kala itu jalan terasa gelap dan sepi. Pada aku yang percaya lagu adalah pengobat jiwa dan Rindu. Yang belum mengnal kekuatan doa.

-silat baru k.15 yang ku sebut kos kegaluan-


Di luar mendung kelabu. Hujan sejak subuh membuat bumi menjadi basah dan dingin. Awan kelabu  mengulung tebal. Terhampar menyelimuti seluruh langit kota Pontianak. Tidak semenit pun mengizinkan cahaya mentari menerobos menyinari bumi. Setidaknya membuat keadaan bumi jauh lebih terang. Sedangkan sekarang, siang terasa malam. Gelap.
Pria itu duduk lemas menatap kearah  luar jendela. Pada awan gelap yang setia menyelimuti bumi. Nanyian hujan yang tiap waktu berbeda, sebentar deras sebentar gerimis, dan kadang hanya tersisa rintik-rintiknya. Kemudian deras kembali, begitu seterusnya hingga detik ini.
Rambutnya acak-acakan, mukanya lusuh dengan pakaian piama yang masih menempel di badan walau jam sudah menunjukan pukul dua belas siang lewat empat lima. Baru bangun. Masih menatap langit mendung. Sesekali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, atau mengacak-acak ramput hitamnya yang tebal itu.
Tidak juga kunjung merasa baik. Ia berjalan lemah pada sebuah tempat tidur ukuran besar, yang di balut oleh seprai berwarna putih polos ala hotel. Ia rebahkan badan tegap dengan bentuk tubuh seproposional model. Menghela nafas berat. Menatap langit-langit. Dirasa jemu ia pejamkan mata itu. Bernegosiasi dengan hatinya yang juga masih belum merasa baik. Menyelami apa yang hatinya butuhkan agar rongga dada itu terasa lega. Seperti sedia kala.
            RINGGG... RINGGG...                                               
Benda berlayar tipis mengeluarkan suara nyaring. Sontak segera ia meraih benda itu. namun, sekalinya benda itu diraih ia letakannya kembali. Iya, itu bukan bunyi panggilan masuk yang biasa membangunkan tidurnya. Melainkan alaram yang tadi pagi ia setel dalam keadaan setengah sadar menahan kantuk dan pusing pengaruh alkohol.

***
Gelap. Ia tetap terus berjalan dengan rasa khawatir dan ketakutan. Tidak ada setitik cahaya yang menerangi. Ia tidak tahu apa yang terjadi di depan sana, ada hal apa dan bagaimana keadaannya. Ia meraba-raba dinding di sisi kananya. Melangkah terseok-seok dengan penuh kebingungan.
Saat ia kepayahan, tiba-tiba cahaya terang menyilaukan matanya. Ia halau pandangannya dengan tangan agar ia dapat melihat dengan jelas cahaya apa yang ada di hadapannya. Matanya pun menyipit. Sekilas terlihat sosok yang ia kenali. Ia kaget. Sontak saja ia bergegas lari ke arah cahaya itu. Sayang, chaya itu kemudian hilang. Sebelum ia sampai.
***
Terakhir, ia berhasil menyimpulkan ikatan dasi di lehernya. Sedikit menggerak-gerakan agar terlihat rapih. Ia perhatikan kembali pemampilannya di cermin. Memastikan pemampilannya telah oke. Jangan sampai ada hal-hal kecil yang merusak penampilannya. Walaupun itu cuma sehelai benang yang keluar dari jahitan.
Rambut, oke. Baju, jas dan dasi, oke. Celana, ikat pingang dan sepatu pun oke. Wajah? Ia benci menatap wajahnya. Wajah kuyu yang terlihat lesu itu. Sangat menyebalkan. Ia melangkah meninggalkan cermin dengan kesal.
Sepatutnya bukan pada cermin ia merasa kesal. Tapi pada dirinya sendiri. Jika ada orang yang membenci dirinya, ia jauh lebih membenci dirinya sendiri dari orang lain yang membencinya. Kenapa? Karena ia tak sempurna yang orang lain lihat. Karena ia lebih mengtahui kelemahan dirinya.
***
Di cahya lampu jalan yang menimpa dirinya, Ezel berjalan. Festival pasar rakyat yang meriah. Jalan-jalan yang ramai di penuhi pengunjung. Suara-suara musik hiburan terdengar begitu riuh. Canda tawa para pengunjung. Harusnya itu semua bisa membuat dirinya merasa bahagia. Walau cuma seulas senyuman di ujung bibir yang begitu cepat, sekilas sekali. Secepat sambaran kilat.
Harusnya pula, ia ikut tertawa ketika ada kejadian kocak tak terduga. Namun... mulutnya tetap kelu. Hiruk pikuk suasana di sekitar sama seklai tidak berhasil memancing gairah hidupnya. Ia masih saja seperti mayat berjalan. Beraga tanpa nyawa. Percayalah itu bukan pula inginnya.
***
Pada sebuah pohon di pinggir jalan dekat sebuah restoran cina. Bercat merah lengkap dengan aksesoris etnik cina, dengan pengunjung yang tidak begitu ramai. Lampu jalan yang kadang hidup dan mati seperti telah enggan menerangi jalan.
Wanita bertubuh pendek dengan berat badan yang ideal. Rambut pendek yang tergerai. Dres mini yang ia kenakan. Ah. Ia begitu terlihat sempurna walau lampu jalan itu redup-redup mati hidup semaunya. Senyum wanita itu, selalu berhasil membuat senyum Ezel muncul dengan mudahnya.
Ia menyelipkan rambutnya di daun telinga, masih menatap Erzal dengan senyum mautnya. Sesekali ia tertunduk. Begitu tenang ia berdiri. Ezel menatap takjub. Bahagia? Rasanya hanya ia manusia yang paling bahagia malam itu. Ezel meraih tangan wanita itu dengan lembut. Membelainya. Kemudian...
Kemudian secara perlahan pula, dengan lembut dan lincah wanita itu menarik tanganya lepas dari gengaman tangan Ezal yang akan menyium tangannya. Ia tersenyum kembali. Menatap Ezal dengan tenang.
            “Kita hanya dua hati yang sama-sama kosong. Yang tidak dapat mengenapkan antara satu dan yang lain.”
Mata Ezal berubah menatap wanita itu dengan kebingungan. Kaget, rasanya ia tidak percaya dengan apa yang diucapkan wanita di hadapannya. Mata. Ezal mencari sebuah jawaban di mata wanita itu. Sayang, tatapannya masih sama menengakan walau ucapannya menyakiti hatinya.
            “Maafkan aku Ez. Percayalah bersama mu aku merasa bahagia. Jaga dirimu baik-baik” Wanita itu kembali mengulas senyum manisnya kemduian balik kanan, meninggalkan Ezal yang masih mematung tak mengerti.
            “Yang tidak dapat menggenapkan satu dan yang lainnya” apa maksud ucapanya barusan? Ezel membatin.
            “Aku tidak mengerti. Ku mohon berhentilah!” teriak Ezel.
            Wanita itu membalikan badan menghadap Ezel. “Kau ingat kapan kita berjumpa?”.
            Kepala Ezel berusaha mengingat kembali kapan ia bertemu dengan wanita itu.
            “Pada sebuah acara bukan? Di jalan lebar yang begitu riuh pengunjungnya. Namun aku dan kamu sama-sama merasa paling kecil dan sendiri di sana. Betulkan? Kau aku, saat itu nasib kita sama. Kita merasa hati kita kosong karena di tinggalkan oleh orang yang kita cinta. Kita saling bercerita, kemudian akrab lalu kita merasa nyaman. Seolah kosong itu terisi. Percayalah aku, kau pasti setuju bahwa saat itu kau merasa dirimu telah baik-baik saja kan?”
            Ezal hanya mengangguk, memahami kalimat yang terlontar dari wanita itu.
            “Aku pun merasa begitu Ez. Hingga pada akhirnya aku sadar. Hatiku dan hatimu tidak terisi karena rasa yang kita sebut cinta. Tapi kesamaan nasib. Rasa kasihan dan iba. Bahwa sesungguhnya aku tidak pernah merasa tergenapkan karenamu.”
            “Tapi aku mencintaimu.”
            Wanita itu menggeleng.
            “Kumohon percayalah”
            “Selamat tinggal Ez”
                                                                        ***        
Ezel meneguk minuman soda yang ia genggam. Berusaha keras mempercayai hal-hal yang telah terjadi. Cih! Iya tersenyum menatap langit. Apa yang di inginkan Tuhan atas dirinya.
Melalui luka Ezel akhirnya  berhasil mengingat Tuhanya kembali, setelah sekian lama ia lupa akan keberadaan Tuhan dan satutusnya: seorang hamba. Apa yang Tuhan inginkan darinya sehingga Ia tega berulang kali membuat Ezel terluka? Apa yang sedang Ia harapkan dari keadaan hatinya yang remuk redam? Yang hanya untuk menatap kecermin pun dia enggan. Ezal tidak pernah tahu apa yang diinginkan Tuhan untuk dirinya.
“AAAAA.... ” Ezal berteriak
Mengapa dunia selalu penuh dengan teka-teki rumit?
“Kia.. Kia...Kia. kau pun pergi meninggalkanku sendiri” 
***
Aku baru saja mengemas buku-buku yang ku pinjam di perpus. Berjalan keluar meninggalkan perpustakaan. Melanjutkan perjalanan ke taman untuk bertemu teman lamaku. Namanya Kia, temanku ketika SMA. Ku dengar saat ini dia telah bekerja di sebuah kantor swasta. Ah, aku lupa apa nama kantornya. Karena ia menenrangkannya padaku di sela-sela ia menangis sesegukan.
Kami sudah berjanji akan bertemu di taman, duduk merumput di dekat sungai. Ia bilang padaku ia sudah di lokasi, mengunakan kemeja abu-abu dan celana jeans. Aku melambaikan tangan begitu melihat Kia. Tersenyum ramah, ia pun membalas hal serupa.
“Assalamualaikum” sapaku.                        
“Waalayku salam” jawabnya.
Kami bersalaman dan cupika cupiki. Ia tersenyum bahagia melihatku. Aku pun demikian. Rasanya rindu yang kurasa terobati.
“Jadi apa yang ngin kau bicarakan itu Ki?” tanyaku memulai percakapan.
“Hal penting, Zi” jawabnya sambil duduk. Aku mengikuti apa yang dia lakukan. Matanya menatap  jauh kesebrang sungai di hadapan kami.
“Zi, aku masih merasa ada sesuatu yang kurang. Seperti kosong. Meski aku telah memiliki kekasih baru. Entahlah, rasanya bukan dia atau pun ia yang ku inginkan. Andai pun dia yang lama kembali memintaku menjalani hubungan itu, rasanya aku kan menolak. Dan hatiku tidak merasa bahagia dan lengkap. Sekarang, meski ia yang baru jauh lebih baik dari pada ia yang lama. Juga tidak membuat hatiku bahagia dan lengkap. Seolah ada yang kurang. Dan ada yang ku lupa.”
            Aku memanggilnya lembut, “Ki”. Aku mengulas senyum manis, menatapnya dengan tenang “Barang kali yang kau lupa adalah Tuhan. Kau sudah coba jalan kembali pada dekapan kasih sayangnya? Sujud bermesraan dalam waktu-waktu mustajab?” tanyaku.
            Ia mengeleng.
            “Maka, cobalah mulai Ashar ini” kataku.
            Ia tersenyum optimis. Matanya seolah memancarkan semangat baru.
            “Akan aku putuskan untuk meninggalkannya Zi, bantu aku memulainya ya Zi. Aku ingin kembali dan mengenal Allah dengan lebih baik. Beriman, bertakwa dan tawakal padanya.”
            “Tentu. Aku akan membantumu.”
            “Besok malam aku akan menemuinya Zi, akan ku akhiri hubungan ini secepat mungkin.”
FIN


(n) Kisah ini berceritakan tentang ke kosongan hati akibat sakit di tinggal pergi kekasih. Berpikir hatinya akan tergenapkan dengan adanya kekasih baru, justru semakin kosong yang ia rasa. Kosong itu ialah; ia lupa  pada Tuhan.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar