Senin, 28 Agustus 2017

Merasa Cool

Cerita ini hanyalah fikitif belaka. Murni hanya untuk menemani hari-harimu. Sambil menunggu dosen pembimbing misalnya,  atau pun sambil menunggu kepastian hehehe. Ambil pesan baiknya, tinggalkan yang buruk-buruknya. Oke?
So, dari gue si penulis. Enjoy Reading :)

NB: Mohon maaf yang merasa namanya terpakai. Itu karena namanya menginspirasi (Maacih) dan untuk  kamu (dia dia dia) ini cuma cerita saja. Jangan di masukan ke hati.





Sejak subuh itu, subuhku terasa berbeda. Iya, sejak saat itu aku rasakan sesuatu yang berbeda walau semuanya terlihat sama. Sama, ia masih menjadi yang paling pertama bangun di antara yang lain. Ia juga sama masih melangkahiku di setiap waktu mustajab itu.

Sama, basuhan air wudunya masih sama jatuh menyentuh tubuhku ketika ia lewat. Suara pintu kamar mandi, lampu kamar mandi menyala yang menyilaukan mataku juga masih sama. Hingga decitan pintu belakang yang di buka olehnya untuk berwudu juga masih sama bunyinya.

Namun, ada sesuatu sejak malam itu yang hilang di subuh harinya. Kemudian benar-benar hilang hingga di subuh terakhir kami KKM.

Bagiku semuanya terasa normal di awal, biasa saja. Ah tidak di sini atau di rumah aku memang yang paling cuek dan pendiam. Bukan karena aku tidak peduli. Tapi... ya begitulah aku.

Aku lebih senang memperhatikan banyak hal dalam diam. Mencoba memahami sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda. Tidak memusingkan hal-hal yang menurutku tidak penting. Tentu, aku akan respek pada hal-hal yang bersifat penting. Terlebih selama KKM ini.

Semua yang terjadi di sini juga, banyak yang aku abaikan karena menurutku tidak begitu penting. Bahkan orang-orangnya pun ada yang tidak begitu aku pedulikan karena menurutku aku tidak begitu ada kepentingan dengannya. Yahh... aku hanya respek karena dia teman satu kelompok ku saja. Titik.

***

Sayup-sayup angin sore itu menggoyangkan daun pohon akasia di halaman depan. Hening. Senja sore itu terasa berbeda. Lebih sunyi dari biasanya. Bahkan lebih hening dari diamnya sikapku selama ini.

Sabtu sore kali ini hanya sisa kami berlima, aku, Ayung, Agun, Putri dan dia. Tiga teman kami izin pulang untuk ibadah keluarga, limanya lagi izin menghadiri kegiatan ospek mahasiswa baru.

Saat ia masak, aku lagi main game di tempat favoritku. Aku dapat melihatnya dengan jelas semua kegiatan yang dia lakukan sore itu. Ia masak sayur tumis kangkung, dan tempe tahu balado. Sejak pertama kali ia masak, aku langsung tahu hanya ia yang masak dengan bumbu di tumbuk. Ia menumbuk bumbu dengan sangat lama. Aku ingat sekali hari itu salah satu di anatara kami pernah bertanya, “Lama banget numbuk bumbunya? Tak selesai-selesai.”

Ia tersenyum, masih sambil menumbuk ia menjawab “Biji cabai itu gak bisa di cerna. Kalau gak halus numbuknya, nanti bisa usus buntu dan di oprasi. Sayang, duit asuransi KKM kita gak cukup buat oprasi usus buntu untuk 13 orang”

“Benar juga.” jawab teman tadi sambil menggut-manggut setuju.

Aku langsung tersenyum menyaksikan kejadian itu. Hanya saja senyumku itu, ku sembunyikan di balik samrtphon yang sedangku mainkan. Aku memamng begitu, teman-temanku mengatakan aku pelit senyum. Walau begitu senyumku menawan. Lupakan hal itu. Aku bahkan tidak pernah bermaksud untuk menjadi pria menawan yang pelit senyum. Semuanya terjadi alami begitu saja.
Dia bergerak.

CETEK! 
Ia mematikan kompor. Meggambil mangkok dan menyalin sayur yang baru dia masak ke dalam mangkok. Setelah itu. Ia pindah posisi, duduk di tengah-tengan ruang tamu dengan membawa kedua sayur yang telah ia masak. Meletaknnya bersama nasi yang juga baru masak di ricecooker. Kembali ke dapur mengambil piring-piring plastik. Kemudian mengunting kertas nasi menjadi dua bagian, dan di taruhnya di atas piring-piring tadi.

Kedapur lagi mengambil sendok. Matanya mengedar ke seluruh makanan yang ada di hadapnnya. Mengcek apa yang kurang di sana. Kemudian, ia berbalik menghadapku. Tidak, ia melihatku. Maksudku, ia menatapku. Namun tidak ada senyum seperti biasanya di wajahnya. Tidak ada guaruannya yang biasa dia lakukan setiap kali melihatku.
Bahkan ia tampak seolah-olah tidak milihatku.

Ia mendekat kearahku, sambil membawa teko. Meraih galon yang berada di sampingku. Biasanya, ia akan berkata “Gema tolong isi air ini ya”. Tapi kali ini,  susah payah ia melakukannya sendiri. Aku tidak menawarkan bantuan. Karena biasanya pun aku tidak pernah menawarkan bantuan kepadanya.
Setelah teko terisi air, ia hanya meletakannya di tengah-tengah makanan yang telah ia siapkan. Lagi tidak seperti biasanya. Tidak ada seruan ajakan makan bersama. Ia justru langsung mengambil nasi untuk dirinya sendiri. Ia hanya memanggil putri untuk makan bersama. Setelah itu ia kembali ke dalam kamar.

Menyaksikan itu, aku tersadar sesuatu. Yaitu, selama ini. Sejak kejadian malam itu, hari ke sebelas di malam minggu. Ia memang mendiamkan kami. Atau mungkin ia memang menjadi seseorang yang berbeda. Dia yang lebih pendiam.

Baru ketika hanya berlima seperti ini semuanya terasa. Perbedaan sikap dia. Astaga! Itu berarti sudah dua minggu ia berubah. Ia betul-betul berubah. Pantas saja, sejak malam itu. Subuhku tidak lagi di warnai dengan sibuknya ia membangunkan kami yang laki-laki. Termasuk aku. Tidak lagi ia tersenyum lalu memanggil namaku tiap kali ia melihatku.

Tidak lagi ia peduli ketika aku sibuk mengerjakan tugas dari desa. Tidak lagi ku dengar setelah ia menyiapkan makanan mangajak kami makan bersama. Ia hanya akan menyiapkannya di tengah-tengah ruang tamu kemudian masuk kamar.

Bahkan menatap ku pun tidak lagi ia lakukan.

Fatalnya, dia begitu pada semua orang di kelompok 7 KKM ini. Ku kira ia begitu kepada yang lain. Ternyata, ia begitu kepadaku juga. Wait... aku merasa, ia berubah gara-gara aku mengatakan kalimat itu.

Iya aku mengatakan kalimat yang menurutku biasa saja. Ternayata menyakitinya.

***

“Ada yang bisa aku bantu” serunya kepada orang yang ada di ruang kepala desa.
“Ada yang bisa di bantu?” serunya lagi, karena tidak ada yang menjawab seruannya.
Ia melihat kearahku dengan senyum “Gema, ada yang bisa aku bantu?”.
“Apa ya? Aku bingung mau ngajarkannya ke kamu.”
“Kenapa memangnya Gem?”
“Ngabisin waktu.”
“Segitunya?”
Aku diam.
“Ajarin aja Gema, nantikan aku bisa bantu kamu. Kalau kamu udah capek. JadI lebih cepet.”
Aku diam, tidak meggubiris.
“Gema...” panggilnya.
“Gem, coppy-in aku film korea yang itu dong” ia mendekat sambil menyodorkan flasdisk.
“Nanti lah, aku masih sibuk!”
“Bentar aja Gema. Soalnya aku bosan nih, gak ngapa-ngapain di sini.”
“Nanti la, gak lihat kah aku lagi apa?!”
“Bentar dong Gem, cuma episode 1-3 aja.”
“Astaga... Orang ini! Kan bisa download kek atau pulang sekalian sana. Ganggu!” seru ku sambil mengoppy file yang dia minta dengan kasar.
“Makasih” lirihnya. Kemudian aku lihat dia berkemas-kemas dan pergi.
Benar-benar pergi...
Baguslah, gak ada yang ganggu lagi” batinku.

***
“Astaga... orang ini, kan bisa download ke atau pulang sekalian sana. Ganggu!” serunya sambil mengopy file yang ku pinta dengan kasar.

Deg!

Jantungku bergetar. Aku merasa gak enak hati karena telah menganggunya. Rasanya tiba-tiba air mata ini ingin luruh tumpah keluar. Namun ku tahan.

Sungguh aku tidak menyangka orang yang pendiam selembut dia berkata demikian. “Astagfirullah, hamba diusir ya Allah” perih rasanya di perlakukan demikian oleh teman satu kelompok. 

Bercampur emosi dan marah, segera kau berkemas dan pergi meninggalkan mereka yang angkuh sok sibuk itu.
“Astagfrullah halazim ya Allah, niat baik hamba tidak di sambut baik. Ampuni hamba ya Allah jika karena kebodohan hamba ini justru membuat ia atau mereka merasa terganggu.”

Malam itu aku pulang dengan keadaan stres. Banyak pikiran yang berkecamuk di kepala. Di sisi lain ada sulutan api yang membakar emosi dan memperbesar api amarahku. Di sisi lain, aku coba menenangkan diri ber-positif thinking. Bahwa itu semua salahku.
Malam itu pula, aku tidur dalam ke adaan menangis.

Billa menghiburku malam itu. Ia memelukku dengan penuh cinta. Membersihkan luka-luka di dada dengan mengingatkanku pada ahlak mulia; memaafkan dan sabar.

“Sabar ya Uha. Barang kali ini ujian sabarmu” ia mengelus jilbab yang belum sempatku lepas.
“Sudah-sudah menangisnya. La tahzan inallahha mana. Kamu pernah bilang, bahwa tanda Allah mencintai hambanya itu dengan diberikan ujian. Kamu yang sabar ya, jangan marah ya, maafin ya sayang. Yakinlah dengan begitu kamu lebih mulia.”
“Tapi sakit Billa”
“Ya, hidup memang begitukan. Kamu paham betul konsep hidup seperti itu. Tidak selalu adil, tidak selalu menyenangkan. Karena hanya Allah yang Maha Adil dan karena hanya Surga-Nya Allah yang selalu menyenangkan dan abadi.”

Aku diam, sambil sesekali terisak.

“Dari situ kamu juga belajar, bahwa menjadi pendiam itu perlu supaya orang lain segan. Mulai esok pagi bicaralah seperlunya. Agar kejiadian seperti ini tidak terulang. Agar ia mampu belajar berharganaya keramahan seseorang.”

“Tak apa. Luka ini mendewasakanmu. Terpenting kamu sudah melakukan yang terbaik menurutmu. Kamu sudah berusaha welcome dengan mereka. Ketika responya juga masih sama, malah justru melukaimu. Itu pertanda, berbicara seperlunya lebih mulia.”

“Tak apa. Kita tidak bisa menyatu dengan mereka. Karena sejatnya bukan kita yang membuat benteng itu tetapi mereka. Dan kita perlu menyadarkan mereka bahwa sifat eksklusif mereka itu tidak lah baik. Bahwa mereka telah meyia-nyiakan sesuatu yang sepatutnya dapat mereka syukuri.”

“Mulai besok, kita kerjakan aja pekerjaan rumah. Masak, nyuci piring dan bersih-bersih. Toh itu yang mereka senangi dari kitakan? Biarlah mereka yang mengerjakan prokja, terserah mereka supaya apa. Supaya di lihat yang paling hebat, paling bekerja atau apa. Karena sejatinya amanah itu berat. Barang kali Allah tahu kita tidak sanggup menggung manah itu, sebab itu Allah tidak izinkan kita mengerjakannya. Amanahkan ditagih hingga di akhirat nantikan?”

Aku mengangguk setuju.

Malam itu aku si Uha manarik kesimpulan, menjadi manusia yang berkata baik atau diam. Lebih tepatnya berkata seperlunya atau diam. Karena banyak bicara dihadapan mereka walau itu baik, hanya akan di pandang sebagai penganggu.

***

Selesai makan, aku menanti-nanti waktu yang tepat untuk bicara dengannya. Aku harus minta maaf. Sayang tidak pernah terjadi waktu yang tepat itu. hingga KKM usai. Ia seolah menjauh dari kami. Atau ini lah kebiasaan yang kami bentuk sehingga ia terbiasa menjauh? Terbiasa dijauhi yang kemudian juga ikut menjauh? Ahh.. salahku yang tidak bisa berbuat baik.

Padahal seharusnya aku berbuat baik dan menjaga perasannya. Karena ia yang paling rajin ibadah di antara kami. Ia yang aku sendiri saksinya, tetesan air wudu itu selalu setia menetes bagian tubuhku di setiap sepertiga malam. Telingaku yang juga menjadi saksi mendengar suara percikan air wudunya.

Aku pernah mendengar ia memutar video ceramah tentang ahlak mulia. Isinya yaitu :
“Amal yang di senangi Allah itu adalah, menyenangkan hati orang beriman”

Aku mengelus dada, hanya bisa melihatnya dari jauh sambil lirih berucap “Maafkan aku Karina Uha. Seharusnya aku bisa lebih menjaga perasaanmu, seharusnya aku bisa bersikap jauh lebih baik kepadamu.”

Sekarang... Ah... Sekarang ku pendam sendiri. -Gema Rizwan-


By: Zea Zareen-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar