Senin, 28 Agustus 2017

Jam Satu Siang

Aku masih saja tertawa mengingatnya. Terima kasih untukmu yang telah meninggalkan kisah manis untuk selalu aku kenang di perjalanan hidup ini. Kamu... Ya kamu, aku di masa lalu.


Langit siang itu mendung. Awan hitam bergulung-gulung menggantung dengan berat, seolah beban yang ia bawa tak sanggup lagi di tahan. Angin mulai ribut menerbangkan segala hal yang ia jumpai. Gelap. Sepertinya hujan akan turun.
Indah masih berdiri di pojok teras sekolah. Membalut tubuhnya dengan sweter warna hitam kesukaannya. Tanggannya ia masukan ke dalam kocek sweter yang berada di bagian perut. Kepalanya ia bungkus dengan topi sweternya. Hangat. Dia perbikir rasa hangat itu akan lebih nikmat jika ia berada dalam balutan selimut tebal miliknya di rumah. Bergulung seperti trengiling di atas kasur kesayangannya yang di temani oleh sohib setia kala cuaca hujan yaitu; guling.
Di sisilain, dari kejauhan seorang anak laki-laki sedang memperhatikannya tanpa ia sadari. Anak laki-laki itu menatap dengan penuh ke bencian dan amarah. Sorot matanya seolah mengutangkan sesuatau kepada Indah. Wajahnya tegang. Meski sebetulnya wajah itu tampan. Kulitnya putih, hidungnya mancung dan alisnya sempurna melengkung seperti bulan sabit. Kecil, tersusun rapih dan hitam walau tidak tebal.
Indah menunggu temannya selesai ujian lisan. Yulian adalah teman baiknya. Bisa di katakan sahabat. Walau keduanya tidak pernah saling mengakui mereka bersahabat. Tapi, apakah hubungan sahabat harus terjadi karena perjanjian ingin menjadi sahabatnya? Indah rasa tidak. Ia menikmatinya dan Yulian pun demikian.
Gadis dengan tinggi badan seratus empat puluh melambaikan tangan kepada Indah dari kejauhan. Deretan giginya terlihat ketika ia melemparkan senyum lebarnya yang penuh energi ceria. Wajahnya tidak terlihat seperti habis ujian lisan. Indah balas melambaikan tangan.
“Gimana ujianmu?” tanya Indah ketika gadis itu melangkah lebih dekat ke  arahnya.
“Bisaa jawab. Berkat bantuanmu” jawab si gadis.
“Bukan apa-apa, aku bantu gak seberapa Yulian. Itu karena usaha mu sendiri” kata Indah  membantah.
“Tetap saja sebab bantuanmu In, terima kasih ya.” Yulian menyengir.
“Sama-sama Yulian”.

***
“Kamu? Ngapain?”
“Eh... Ikut aja.”
“Ia tapi gak usah narik-narik gitu dong. Sakit”
Laki-laki itu tidak peduli.
“Aku bilang sakit”
Ia masih tidak peduli.
“Pak Guru!!!” Teriak Indah.
“Bang Ardian!!!” Pekik Indah ketika melihat laki-laki bernama Ardian keluar dari ruang kelas tiga IPS.
Melihat itu Ardian langsung mencegah aksi laki-laki yang menarik tangan Indah.
“Mau dibawa kemana adek ku?” tangannya mencengkram bahu laki-laki itu.
“Gue ada urusan sama adek lu.”
“Baik-baik dong bro. Itu adek ku, bukan adek mu.” Cengkramannya makin kuat.
“kasihan tangan adek ku sampe merah gitu” Ardian melepaskan gengaman tangan laki-laki itu yang memegang erat pergelangan tangan Indah.
Setelah lepas, Indah langsung berlari ke belakang pungung Ardian. Memegang erat pingang abang kandungnya. Jantungnya berdebar ketakutan.
“Mau dibawa ke mana adekku?” tanya Ardian kembali mencengkram bahu laki-laki itu.
Laki-laki itu diam aja.
“Derry Darmawan” Ardian membaca nama di seragam laki-laki itu. “Aku tahu kamu, anak kelas dua kan? Adik aku ada masalah apa denganmu? Sampai kamu seret-seret dia. Ingat Derr dia adekku.” Cengkramannya semakin kuat.
Derry menepis cengkraman Ardian, ia mulai merasa cengkraman itu semakin kuat. Ia juga tidak menyangka rencananya akan kacau balau seperti ini. Padahal dia hanya ngin menyakan sesuatu ke pada Indah. Suatu hal yang membuatnya jengkel gak ketulungan.
“Adik lu udah nyakitin gue” ucap Derry sambil menatap tajam ke arah Indah.
“Benar dek?” tanya Ardian ke Indah.
“Enggak ada kok bang”
“Indah, kemarin kamu udah buat aku nunggu sampai sore. Kamu anggap itu nggak nyakitin gue?” matanya semakin tajam.
Astaga!! Aku lupa. Indah teringat sesuatu. Kemudian ia jinjit ke membisikan sesuatu ke telinga Ardian.
Ardian mendehem, mengatur nafas dan perasaannya juga menahan tawa. “Adek ku kemarin nemanin aku di rumah. Kalau ada yang mau kau sampaikan, ngomong sekarang di depan abangnya.”
“Gue suka adik lu bang”
***
Hari sabtu pada tahun 2010 itu, sekolah Indah pulang lebih awal di karenakan ada rapat dewan Guru. Setelah mengemas alat-alat tulisnya, Indah segera berjalan keluar kelas. Tiba-tiba, ada yang menarik tangannya. Seseorang anak perempuan, teman sekelasnya.
“In, ada surat untuk kamu.” Ia menyodorkan ke Indah.
Indah menerima surat itu, dan langsung di baca.
Besok pagi jam 10, ku tunggu kau di taman.
Tidak ada nama pengirimnya. Indah pun langsung membuang surat itu ke tong sampah yang ada di dekatnya.
Seperti hari biasanya Indah tetap bangun lebih awal meski har libur. Ia bangun sebelum subuh untuk melaksanakan solat sunah. Setelah selesai ia lanjutkan dengan membaca Quran. Selepas solat subuh ia dan abangnya belajar bersama Ayah mereka. Di lanjutkan dengan membantu pekerjaan rumah. Sementara Ardian biasanya ia juga ikut membantu pekerjaan rumah.
Semua itu sengaja di ajarkan oleh orangtua mereka agar Indah dan Ardian terbiasa hidup disiplin dan mandiri. Sehingga kelak ketika mereka dewasa keduanya tau pekerjaan rumah. Meskipun Ardian anak laki-laki. Namun tidak menjadikan sebuah alasan untuk tidak pandai pada pekerjaan rumah.
Setelah semuanya selesai Indah pergi mandi, kemudian sarapan bersama keluarga. Jam menunjukan pukul delapan lewat lima belas menit.
“Jadwal Adek me time” Seru Indah yang kemudian menyegerakan acara sarapannya.
“Nonton jak terus kamu dek-dek.”
“Berbie bang.” Ia menyengir sumringah.
“Ya sudah nonton sana, jangan lupa duhaan dulu sebelum nonton”
“Iya mah” jawab Indah.

Begitulah indah, meski telah duduk di kelas satu SMA ia masih saja suka nonton film kartun. Baginya hari minggu adalah surga kartun. Ia bisa seharian nonton kartun jika tidak di kontrol oleh orangtuanya.
Bahkan hingga adzan zuhur berkumandang ia masih asyik nonton kartun di tv.
“Dek, sudah adzan. Solat dulu gih”
“Iya bang.” Indah beranjak.
“Dek” Panggil Ardian.
“Iya bang, kenpa?”
“Kamu gak main? Gak ada janji gitu?”
“Biasanya juga gak ada kok.” Indah lupa dan memang mengabaikan isi surat yang ia dapatkan di hari sabtu kemarin.
“Kenapa emangnya bang?”
“Kepo dong. Dah ah, abang ke masjid dulu”
“Ngapain?”
“Nuker sendal bagus”
Indah terkekeh.
“Solat lah nong. Abang berangkat Assalamualaikum”
“Kirain bang, waalaykum salam. Balik beliin Indah somai” seru Indah.

Sementara Derry, sudah dua jam menunggu kedatangan Indah di taman. Hingga adzan zuhur berkumandang Indah tak juga datang. Derry kesal. Ia merasa dipermainkan oleh Indah. Derry masih setia menunggu hingga jam satu siang. 
Hatinya dongkol. Derry gedek penuh emosi. Esok akan ia tanyakan langsung ke Indah mengapa ia tidak datang.

-Zea Zareen-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar