Kembali

Diluar awan hitam memenuhi langit pagi. Pekat dan gelap. Hembusan angin menyusul kemudian, menggerakan semua benda-benda yang ia jumpai. 

Tak!

Ia menghidupkan saklar lampu, untuk menerangi kamar yang gelap. ia duduk di atas tempat tidurnya. menyandar ke dinding sambil membaca sebuah buku. Sesekali ia tegakkan badannya, dan ia dongakan kepalanya. Mungkin mengurangi penat? atau mungkin ada hal lain? entahlah.




Ia teringat sebuah rasa yang bernama rindu. Sudah lama ia tidak pernah memikirkannya, mengingatnya. Bahkan ia sudah bahagia. Tapi, mendung di pagi ini datang membawa rindu pada sosok dulu.

Walau ia tahu, sosok itu kini telah lama melupakannya. Ah... Entahlah ia tak mengerti. Mengapa, meski sudah lama, samar-samar rasa itu masih ada. Apakah ia belum sembuh? Tapi sudah lama sakit itu tidak pernah hadir lagi.

Kemudian ia tutup buku yang ia baca tadi. Meletakannya di atas meja putih. Meraih kalender yang terpajang di tempat yang sama. Membolak-balikkan lembaran-lembarannya dengan mulut seperti membaca mantra. 

Ia menghitung hari dimana ia memutuskan untuk berhenti dan mengikhlaskan. Melepaskan suatu hal yang bukan miliknya. Hari di mana ia telah merasa gemuruh didada reda. Hatinya merasa lega. Dimana ia merasa hari itu, hidupnya terasa ringan. ia bagaikan sedang terbang di awan-awan putih yang ringan.

Sudah dua bulan. Ia menghembuskan nafas berat, menaruh kembali kalendernya. Membanting tubuh mungilnya di kasur. 

Ya, sudah dua bulan juga hidupnya terasa agak sedikit sepi. Tapi ia akui meski sepi ia merasa tenang. Namun... Ada kerinduan dan kejengkelan. 


***
Waktu itu ia sudah sampai di parkiran. Ia kelihatan lebih anggun mengunakan gamis dan jilbab yang senada. Setelah beres memarkirkan motornya, ia segera melangkah menuju lokasi yang telah di sepakati. 

Berjalan, terus berjalan. Matanya mengedar ke seluruh isi cafe, mencari lokasi  teman yang lainnya. Seorang pria dengan kulit sawo matang melintasi. Ia melirik, mulutnya menganga siap mengeluarkan sebuah kata. Sayang mulutnya terkatup kembali sebelum berkata apapun. 

Hah! Lagi, ia mendeguskan nafas kesal. Entahlah hatinya terluka dengan sikap pria tadi. Akhirnya ia melangkah ke kasir dan bertanya.

Sejak saat itu, ia ragu dan memilih diam. Tidak mampu. Hatinya tidak mampu untuk mengikuti egonya. Mungkin saja sikap pria tadi adalah cara untuk membuat dirinya merasa lebih baik, walaupun ia justru merasa tidak baik.

Pun ketika berada dalam pertemuan, ah semua terasa hambar. Tegang, seolah penuh berisikan kebencian.


***
Ia merasa kali ini, di bulan ketiga ini. Ia merasa tidak dapat berlagak jaim lagi. Toh hati mana yang ia jaga? Bahkan ia tidak peduli sekalipun lelaki itu merasa di rendahkan. Karena, sejatinya bukan karakternya. Ia hanya merasa ingin menjadi dirinya sendiri. Yah, dia memang tidak peduli pada semua itu.

Esok ataupun hari ini, ketika nanti ia berjumpa dengan pria itu. Ia kan menegurnya dan tersenyum meyapa.  Sambil berkata "Hai Friend".

Posting Komentar

0 Komentar