Kamis, 20 April 2017

Kekasih Kedua

Hamparan padang rumput yang luas dengan sapi-sapi yang asik menikmati rumput. Matahari sedikit menyondong kearah barat dengan cahaya yang perlahan meredup. Hembusan angin membelai lembut rambut yang tergerai.

Di bagian selatan nampak bukit-bukit menjulang tinggi dari kejauhan. Tersusun rapih bagai benteng yang kokoh. Di bagian timur, sebuah jalan beraspal yang masih sepi. Hanya ada beberapa penguna sepeda. Di sebrang jalan tepat di hadapnnya ada sebuah rumah panggung berpapan. Ada sebatang pohon rambutan di halaman depannya.


Ia mulai mengemas barang-barangnya. Merapihkan kamar dan isi tas. Memastikan segalanya lengkap berada dalam tempatnya masing-masing. Kemudian menyatat beberapa nama-nama benda di dalam note book berwarna pink. Mulutnya bergumam-guman sendiri.

Setelah dirasa semua sudah lengkap, ia mengangkat tas ransel ke pungungnya. Kini ia sudah siap berangkat. Ia menggunakan gamis warna ungu yang di padu padankan dengan jilbab berwarna hitam. sepatu berpita, siap melangkah kembali pulang.


Tin! Tin! Tin!


Kelakson motor temanya berbunyi, pertanda ia harus segera keluar kosnya.

"I'm ready" katanya ketika keluar rumah.
"Ya, aku bisa lihat itu. Ayo, taruh barang-barangmu di sini" temannya menunjuk kebagian depan jok motor.
"Baiklah." Ia menurut. "Oh... Aku gak sabar ingin segera sampai di rumah. Waaaa..."
"Kalau begitu, segera naik di kuda besiku!"
"Ya, baiklah..."

***
"Cepat-cepat bisnya sudah mau berangkat."
"Iya."
"Barangmu sudah dimasukan ke bagasinya semuakan?"
"Iya sudah"
"Ada yang ketinggalan?"
"Tidak"
"Cek lagi, jangan sampai ada yang ketinggalan."
"Sudah semua temanku,berkatmu. belief me" ia tersenyum meyakinkan temannya.
"Oke."
"A, aku pulang dulu ya. sampai jumpa semester baru."
"Ya, hati-hati di jalan." 
"Bye!" ia melambaikan tangan.

Besstt... Pintu bis tertutup,  perlahan berjalan meninggalkan Kota Pontianak.

***
"Selamat menikmati liburan. Apa rencana liburanmu?" sebuah pesan masuk.
"Kamu juga. Eem.. Kurasa akan main ke Pinoh."
"Ngapain?"
"Mengunjungi keluarga, dan ..."
"Dan apa?"
"Hahaha... Tidak ada."
"Bohong! Ayo kasih tahu."
"Besok aku telpon ya, bye!"
"Alahh..."

Pinoh. Baginya ia seperti rumah kedua. Bahkan tempat terbaik dalam hidupnya. Sebuah tempat yang sekarang menjadi kota kecil di sebuah Kabupaten baru. Kabupaten Melawi.

Pinoh adalah cinta terbaik dalam hatinya. 

***
Banyak kisah indah yang tertinggal di sana. Ia seperti angan, tidak bisa diulang memang. Hanya bisa di ingat kembali. Datang ke sana adalah caraku mengulang kembali kisah itu. Semua masih tergambar jelas. Kota Pinoh lima belas tahun yang lalu.

Lima belas tahun yang lalu, kota itu masih menjadi sebuah kecamatan. Tempat terpencil yang sangat menabjubkan. Tempatnya masih sepi, sejuk dan terasa begitu damai.

Aku benar-benar tidak bisa melupakan semua itu, tiap sudut tempat itu dengan detail. Bahkan kini, meski sudah berubah mulai menjadi kota besar yang membosankan dan menjenuhkan. Aku masih menyukai kota itu. Seperti ada bagian dari dirinya yang tertinggal disana dan terjebak oleh waktu.

***
Aku masih mengunjungi kota itu. Aku sempatkan jauh-jauh berkunjung ke sana. Hah... bahkan ketika aku menulis ini, aku masih bisa mencium aroma tanah gambut ketika kami tinggal disana. Masih mendengar suara kicauan burung yang selalu berkicau di tiap paginya. Masih mendengar gemercik air di sungai kecil. Masih terasa segar hingga kini.

Kota itu bagian terbaik di dalam hidupku. Itu seperti kekasihku yang lain selain kota Sintang. Meskipun Sintang adalah cinta pertamaku namun Kotanya tidak pernah ada di hatiku. Berbeda dengan dia, aku bertemu dengannya dan tinggal di sana sebagai pendatang. Namun, ia selalu ada dihatiku meskipun hanya sebentar tinggal disana.

***
Ia mungkin seperti seorang pria yang akan datang di masa depan, yang dapat merbut hatiku. Ia tidak datang sebagai orang pertama dalam hidupku, namun aku tahu dia yang akan mengisi ruang kosong di hati. Menjadikannya sebagai satu-satunya pria asing yang kucinta.

Tentu ini akan sedikit berbeda dengan seorang pria, karena seorang pria yang kini hampir mengisi hati tidak menjadi cintaku.

Ada bagian-bagian tertentu yang aku merasa ini seperti sebuah kisah antara wanita dan pria. Sintang mungkin saja Hendri, sebuah cintaku yang lalu, dan Pinoh adalah jodohku yang sebenarnya. Sayangnya aku belum pernah bertemu dengan dia yang menjadi jodohku di masa depan. Ah.. Atau, mungkin saja aku sudah pernah bertemu sebelumnya tanpa kusadari bahwa ia adalah jodohku. 

***
Pinoh tempat terbaiku untuk memulihkan hati karena serpihan kisah yang rusak. Tempat terbaik untuk menentramkan pikiran yang runyam. Tempat terbaik untuk berkata "Aku baik-baik saja" dengan makna yang sebenarnya.

Bersepedah di ujung jalan itu, rasanya aku seperti benar-benar utuh. setelah lama remuk tak berbentuk. Bermain air di sungai yang kini sudah menjadi sebuah parit dengan kondisi yang terjaga, membuat hatiku lega setelah lama menjanggal. 

bagian terbaiknya adalah, berteriak dari temapat tertinggi di bagian kota. Membuat bebanku lepas. Seolah aku menghempaskannya kebawah lemabah. Setelah lamaku pendam sendiri.

***
Tentang kehidupan sosial di sana. Aku sengaja tidak mengizinkan diriku untuk akrab dengan siapa pun selain keluargaku. Aku tidak ingin berakhir seperti kisahku di kota ketiga, yang berakhir tidak bahagia. Aku ingin menyimpan kota Pinoh itu seutuhnya. Kelak ketika aku sampai pada suatu impianku. Akan ku perlihatkan keindahnnya lima belas tahun lalu, yang membuatku selalu rindu dan terus ingin kembali pulang meskipun telah jauh aku berpetualang.

Janjiku padanya, akan mengabadikan kedamian, cinta, ketenangan, keindahan, kasih sayang, kenangan semua tentangnya secara utuh. Akan kau wairskan semua itu pada generasiku. 

Dari yang terkecil, ketika cacing tanah menggeliat ditelapak tangan. Semut yang diam-diam membopong kopok telinga yang tertinggal di jendela. Langit senja yang indah, sore yang dingin dan mencekam. Suara burung yang berkicau indah, pohon cabai yang mulai menua. Awan-awan yang berarak teriup angin.

Udaranya. Aku tdak lupa, udaranya yang sejuk menembus ke paru-paru. Kisah-kisah kecil yang tertinggal disana.

Aku yang tenggelam dalam kubangan tambang emas. Tersesat dalam hamparan ilalang yang dulu begitu tinggi. Ayah yang mengendongku sambil menyingcing kayu. Gubuk dan bagau-bangau di balik kebun setapak. Rintikan gerimis dalam malam yang sendu. Tetesan air yang menerobos masuk ke tempat tidur. Aspal yang menggit. Bukit yang menjulang. Lembah penasaran. Berburu burung dan terjebak. 

Sekali lagi meskipun kini. Semua itu telah tiada. Semua itu seperti dongeng. Percayalah ia tetap ada. Abadi, dan akan terus abadi. Dalam tiap kata yangku tulis, dalam hayal yangku lukis. 

Ketika aku kembali dan menjumpainya sudah berganti perumahan dan rumah sakit. Gunung yang datar. Aku tidak melihat itu  meski aku memandang kearah mereka. karena di mata dan hatiku itu tetaplah Pinoh dengan keindahan lima belas tahun yang lalu. 

By: Zea Zareen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar