Malam Ini

Malam ini, hamparan langit dihiasi bintang-bintang. Kerlap-kerlip menghibur bumi. Sunyi, meskipun ombak di tepi pantai masih setia berderu membuat keributan. Tenang, nyanyian jangkrik di sisi darat bersahut-sahutan.

Matanya berkedip-kedip. Mempertemukan dua pulu mata yang saling rindu. Telinganya, selalu terjaga. Siap siaga mendengar setiap bunyi. Otaknya, terus bekerja. Memikirkan sebuah rencana.




Pagi itu, ia sudah siap untuk pergi bekerja. Menemui bosnya dan beberapa pertemuan yang telah ia tentukan. Menggunakan kemeja putih berlengan panjang dan celana kain hitam, ia terlihat tampan. Gaya rapihnya membuat mata terpesona. 

Tidak ada yang istimewa dari pria berusia dua puluh lima tahun ini. Wajahnya juga tidak memiliki ke gantengan yang bisa di perhitungkan. Hidupnya juga tidak populer. Kulitnya pun tidak seputih pria Korea pujaan gadis remaja. 

Ia menutup pintu rumahnya, kemudian menguncinya. Berjalan menuju garasi tempat motornya berada. Ia memasukan kunci ke dalam lubang pada pintu besi berwarna hijau. Mulutnya bersiul, menyenandungkan sebuah lagu. Setelah kuda besi itu keluar, ia menutup kembali pintu besi tersebut. Menghidupkan motornya dan kemudian bergerak meninggalkan rumahnya. 

Jam di tangan kirinya menunujukan pukul 17.00. Ia menarik nafas, kemudian tangannya mengambil layar lima inci. Dengan lincah jari-jemari menari di permukaan layar tersebut. Senyum menghias wajahnya kala matanya terpaku pada benda itu.

"See you tonight!" Sand. Ia mengirim pesan.

***
Ia berjalan menuju sebuah kamar apartemen. Tangannya membawa sebuket bunga mawar merah. Hatinya gembira. Sesekali ia cium mawar tersebut, dan senyumnya kembali menghiasi wajah. Ada harapan dalam hatinya, semoga wanitanya menyukai mawar yang ia bawa.

Kamar wanita yang ia cinta berada di lantai tujuh. Jantungnya berdebar-debar tak sabar ingin segera jumpa. Ia menunggu lift melewati lantai demi lantai dengan jenuh. "Lama sekali" pikirnya.

Ting!
Pintu lift terbuka. Di atasnya menunjukan angka tujuh. Dengan segera ia keluar menuju lorong, mencari pintu kamar dengan angka 118. Sayang ia terburu-buru dan menabrak seorang wanita cantik. 

"Maaf." Ucap wanita itu sambil menundukan kepala.
"Saya yang minta maaf. Kamu gak papa?" Tanyanya.
Wanita tersebut hanya tersenyum dan akhirnya pergi.

Ia membalikan badan, terus melihat wanita yang ia tabrak menghilang ke dalam lift. Ia tersenyum, mengingat wajah ayu wanita tadi. Huh... Ia mengeleng-gelengkan kepalanya. Ah... Tidak sepantasnya ia membayangkan wajah itu. Ada wanita yang ia cinta menanti.

Insiden tabrakan tadi membuat buket mawar yang ia bawa terjatuh. Ia mencari bunga mawarnya. Matanya beredar keseluruh penjuru lorong tersebut. Ia tersenyum lagi. Rupanya mawar itu terjatuh tepat di depan pintu kamar 118.

Ia segera berjalan menuju kamar 118. Tidak ia hirukan lagi keadaan di sekitar. Karena yang ada di pikirannya saat ini adalah bertemu dengan cintanya. Lorong yang gelap dengan pencahayaan yang redup, membuatnya tidak dapat melihat dengan jelas. 

kini ia sudah berada di depan pintu kamar 118. Ia membungkuk mengambil buket bunga mawar miliknya yang terjatuh tadi.

CESS..

Tangannya menyentuh sesuatu. Benda cair. Namun dingin di tangan. "Air dingn?" tanyanya heran. Ia usap cairan di jarinya dengan jari yang lain. "Kental?" Ia mengerutkan dahi, semakin tak paham. Akhirnya ia pun menciumnya."Bau Anyir?" matanya terbelalak. Dengan segera ia merogoh kocek celananya. mengambil benda berukuran lima inci. kemudian menghidupkannya. terang!

Huwek...

Ia bergegas pergi meninggalkan lorong lantai tujuh. Kembali ke dalam lift, berharap wanita yang ia jumpai tadi masih di sana. Sayang saat liftnya terbuka wanita tersebut sudah tidak ada. Ia pun segera menyusul ke lantai dasar. Setidaknya ia harus bertanya kepada resepsionis, siapa tamu yang baru saja mengunjungi kamar 118. 

Jantungnya berdebar. Kali ini bukan karena tak sabar ingin bertemu dengan cintanya. Namun karena khawatir dengan cintanya. Air yang ia jumpai di depan kamar 118 bukanlah air biasa, melainkan sebuah genangan darah. Darah manusia. Ia yakin sekali itu darah manusia. 

Tapi mengapa harus di depan kamar wanitanya? Ia khawatir. Jangan-jangan wanita tadi ada hubungannya. Gelisah. Ia menekan beberapa angka di layar smartphone. Dan ... TUT... TUT... TUT...
"Masuk" pikirnya. hatinya sedikit lega dan berharap wanitanya segera menjawab telpon darinya. TUT-TUT-TUT. Ia mengerang geram, dan berusaha menghubunginya lagi.

Ting!
Pintu lift terbuka dengan keterangan G. Masih berusaha menghubungi ia berlari menuju resepsionis.
"Bisa beri tahu saya, siapa tamu yang baru saja mengunjungi kamar nomor 118?" tanyanya.
"Baik Pak." Jawab seorang resepsionis.
"Siapa?" Tanyanya tak sabar.
"Sepbentar Pak masih kami cek."
"Sudah?" Tanyanya lagi.
"Sebentar ya Pak."
"Bagaimana? Siapa?"
"Ee... Dapat Pak. Namanya Sandy Mahendra."
"Hah? Sandy Mahendra?"
"Benar Pak."
"Sandy mahendra kan aku? Gak mukinlah pasti salah."
"Benar Pak, di monitor kami namanya sandy mahendra. Bahkan ada KTP-nya, Pak."
"Gak mungkin Mbk. Sandy Mahendra itu saya. Dan saya baru datang ke sini."
"Benar bapak, saya tidak bohong."
"Boleh saya lihat?"
"Silahkan jika bapak tidak percaya." Jawab resepsionis tersebut ketus.

Saat Sandy berjalan menuju meja resepsionis bagian dalam. Tiba-tiba susana  lantai dasar gaduh dan ramai orang berlari keluar gedung.
"Ada yang jatuh!" 
"Ada yang jatuh!" Teriak orang-orang dari arah sana. 
Mata Sandy tertuju kepada orang-orang yang berlarian untuk melihat apa yang jatuh. Ia pun refleks segera berlari mengikuti yang lainnya. 

"Pak! Bunganya." Panggil resepsionis.
namun ia tidak mendengarkannya. 

Resepsionis tersebut menghela nafas. Melihat buket bunga mawar yang berdarah. Darahnya mengotori meja resepsionis yang berwarna putih. Ia tersenyum, kemudian jarinya bergerak-gerak seolah mengukir sesuatu di atas meja.

Padat!
Pintu keluar di penuhi banyak orang. Sesak, setengah mati sandy berusaha menerobos lautan manusia. Hampir ke bagian paling depan. Orang-orang saling berbisik. Kemudian dari jarak dekat tercium bau anyir. 

"Apa yang ada di depan sana?" Tanya Sandy.
"Mayat Pak!" Jawab salah seorng yang ada di lautan manusia tersebut. Sandy penasaran, ia pun berusaha lebih keras lagi menerobos untuk melihat mayat yang bapak tua itu sebut. 

Semakin dekat, semakin tercium bau anyir yang menusuk hidungnya. Semakin jelas pula objek yang ingin ia lihat. Sandy berlari ke objek tersebut. Sambil berteriak "Panggilkan ambulan!" Ia menangis tersedu-sedu. Kini wanitanya telah berlumuran darah. Anyir. 


Sandy menggengam erat bagian tubuh wanitanya yang masih tersisa. Air matanya terus bercucuran. Hatinya lemas, ia tak percaya wanita yang sudah tak berbentuk lagi ini adalah kekasihnya. Terasa seperti mimpi, namun sakitnya nyata. Sungguh ia sama sekali tidak menduganya. Siapa yang tega berbuat demikian pada belahan jiwanya? Sandy yang malang.

"Pak-Pak-Pak" panggil seseorang dari arah belakang. "Ini bunganya." Kata orang itu sambil menyodorkan buket bunga mawar yang ia bawa tadi. Sandy tidak merespon, pikiran dan hatinya sedang tidak di tempat. Kosong, jiwanya pun ikut terhempas dan hancur bersama tubuh wanita yang ia cinta.

"Malam ini, kau akan merasakan apa yang dulu aku rasakan. Selamat menikamati kesedihan San-dy" bisik lembut seseorang di telinganya.

Sandy terkejut, sepontan ia melihat kearah belakangnya. Namun sayang, matanya tidak menjumpai sosok wanita yang membisikannya kata-kata itu. Hanya ada Bapak tua dan remaja laki-laki. 

By: Zea Zareen.




Posting Komentar

2 Komentar

  1. Aku tunggu lanjutannya. Bagus . penasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you. Oke.. Oke.. Di tunggu ya.. Ngayal dulu nih. Hihi

      Hapus