Genangan Air dan Bunga Rumput

Teringat jelas kenangan kala kita duduk di bangku SD. Kita habiskan hari dengan bermain bersama. Berlari saling mengejar, mencari dan bersembunyi, memanjat pohon dan berenang. Semua kita lakukan bersama.


Masih ingatkah engkau? ketika aku terpeleset kedalam kolam ikan lele jumbo? Saat itu dengan segera kau menolongku masuk ke dalam kolam. Padahal ku tahu, kau sama sekali tidak menyukai ikan lele yang masih hidup. Meski ku tahu, pada akhirnya aku yang akan menyelamatkanmu, karena kau pingsan berada di antara ratusan ikan lele dengan ukuran jumbo.

Kau tahu Ren? ketika kau pingsan, sejujurnya aku juga takut menghadapi ikan-ikan di kolam itu sendiri. Sedangkan tebing kolam tinggi dua meter. Aku bingung bukan kepalang, memikirkan cara keluar dari kolam tersebut. Hanya ada satu tekat kala itu Ren, aku harus menyelamatkanmu.

Aku berteriak meminta tolong. Berharap di atas sana ada yang mendengar suara kecilku. Suaraku yang tak bertenaga karena menahan tubuhmu dan juga tubuhku sendiri. Aku berteriak lagi kali ini dengan volume lebih kuat. Sama tak ada hasilnya. Aku tidak menyerah, ku berteriak lagi. Kali ini, tenggorokanku terasa perih dan kering.

Tiga puluh menit berada di kolam ikan lele, membuat keberanianku habis. Pada akhirnya tangiskupun pecah, menggema di dalam kolam hingga ke atas sana. Tak lama Paman pemilik kolam datang bersama anak ABG nya menyelamatkan kita. Saat itulah aku mulai kehilanganmu sebagai sosok temanku.

Pertemuanmu dengan anak Paman pemilik kolam ikan itu, menggeser keberadaan diriku di hadapanmu. Setelah itu genangan air di depan rumahmu berlumut, dan kotor. Karena kita tidak pernah bermain dengan genangan air itu lagi bersama-sama. Bahkan kau tidak lagi suka bermain imajinasi, menghayalkan sesuatu dengan genangan air tersebut.

Lama kelamaan, rumput liar hadir menemani rumput beraroma yang kau tanam di pinggir genangan air tersebut untukku. Perlahan rumput beraromamu mati karena terlalu banyak di penuhi rumput liar. Hari ke hari, tunas ilalang muncul kepermukaan tanah. Minggu ke minggu tunas ilalang tersebut telah tumbuh tinggi memenuhi halaman rumahmu. Bulan pun berganti, aku melihat engkau menyemprot habis rumput yang tumbuh di halamanmu. Setelah halaman rumahmu bersih, genangan air tersebut mulai rusak oleh sepedah barumu.

Berjalannya waktu, Ayahmu risih genangan air yang kini telah berubah. Genangan itu menyebabkan halaman rumahmu becek. Basah dan licin. Pada akhirnya dengan berkata "Iya" kau timbun genangan air itu untuk selamanya.

Tiada sesal menghias wajahmu. Tiada sedih ku temukan di wajah tampanmu yang kini semakin berkarakter karena usia.

Aku menunduk lemas. Setelah puas mencari kebohongan di dalam matamu. Aku pun menyerah karena semua harusku terima. Bahwa inilah akhir dari sepotong kisah imajinasi di sebuah genangan air.

Nasibku sama. Seperti genangan air dan rumbut bunga itu. Terlupakan olehmu.
Karena hal yang baru.

Bersama tertimbunnya genangan itu. Tertimbun pula rasa sayangku. Bersama matinya rumput bunga itu. Mati pulalah persahabatan kita.

Tumbuh, hidup dan terabaikan. Sejak saat itu aku selalu terjaga. Tidak  ku izinkan lagi hati menerima tawaran persahabatan. Tidakku biarkan lagi. Dejavu terabaikan mengulang.


Seperti saat ini. Seseorang pria datang padaku menawarkan genangan air yang di hiasi bunga rumput. Bahkan ia membawa pupuk dan semen untuk menjaga keduanya.

Aku tak percaya...
Aku menolaknya. Aku tak ingin Rendy si penghianat lainnya hadir dalam hidupku.

Walauku bisa menebak suatu saat nanti, kau akan datang kembali. Membawa setumpuk album tentang genangan air yang kau timbun.

Masihku ingat jelas. Saat kau menatapnya dengan tatapan aneh, yang sekarang ku tahu itu adalah tatapan mesra. Saat kau pegang tangannya dengan lembut. Saat ia tersenyum malu kepadamu. Terpantul jelas Ren di permukan genangan air itu. Meski kala itu aku sibuk bermain sendiri.

Betapa acuhnya engkau.
Menyayat hati. Mengores luka. Terlalu dalam Ren kau ukir luka dengan janji manismu.

Masihku ingat hingga kini.
Lamaku berduka atas musnahnya sahabat kecilku- genangan air di depan rumahmu.

BY: Zea Zareen

















Posting Komentar

0 Komentar