Rabu, 15 Maret 2017

DejaVu

15 Maret...


Angin musim gugur yang sejuk menerobos masuk ke dalam kamar berukuran 5x6 dengan nuansa putih. Membelai hordeng tipis yang menghiasi jendela berukuran besar. Menyapa setiap sudut ruangan dengan membawa aroma khas di bulan Maret. Datang kembali membelai hordeng dengan penuh kelembutan. Ia memenuhi ruangan serba putih itu dengan penuh kesejukan. Terus menari melewati benda-benda yang tertata rapih di ruangan itu. Kemudian menyapanya, seolah membawa kabar gembira.


Di luar, angin berhembus menari bersama rontokan daun mapel yang mulai berwarna kecoklatan. Membawanya terbang tinggi kemudian rendah dan tinggi kembali, seolah memberikan ataraksi pertunjukan vestival tahunan. Ada juga yang berhembus dengan kencang seolah mengajak dedaunan bermain, gugur dan jatuh dengan tarian indah. Seolah belahan bumi bagian selatan tahu, bahwa kini di permukaannya sedang menikmati musim gugur.



***
Angin yang berbeda hadir memenuhi raungannya silih berganti seperti tamu rutin disetiap musim gugur. Menyapa lembut pada benda-benda yang ia miliki. Menerbangkan pelan benda ringan seperti sosok usil yang berusaha menghiburnya di pagi hari. Menggoyangkan tiap-tiap batang lonceng angin seperti teman yang cerewet memberi semangat.


Kemudian menyapanya yang tengah asik menulis di meja belajar. Menyentuh lembut jilbab berwarna pastel, dan menyentuh lembut pipi chubby-nya seperti seorang kekasih.


Laishka menghentikan kegiatan menulis. Ia pejamkan mata saat angin membelai lembut pipinya dengan penuh rasa sejukan. Ia resapi hingga ke dalam dada, dengan zikir memuji penciptaNya. Hati Laishka merasa tenang bahwa Tuhan masih mencintai dirinya hingga detik ini. Mengizinkan dia menikmati tiap bagian-bagian kenikmatan kecil kehidupan.


***
Tok.. Tok.. Tok..


Seseorang mengetuk pintu kamar. Laishka segera beranjak ke arah pintu. 



“Assalamualaikum” sapa orang di balik pintu.


“Waalaikumsalam” jawab Laishka lembut sambil membuka pintu.


“Silahkan masuk mbak” Laishka mempersilahkan wanita yang ia panggil mbak itu masuk.


“Tidak perlu Ishka. Saya cuma ingin memberitahu kamu, teman bulemu sudah menjemput.”


“Oh, baik mbak. Terima kasih ya mbak sudah memberitahu Ishka.”


“Sama-sama. Saya kebawah dulu ya”. Wanita tersebut kemudian pergi meninggalkan pintu kamar berwarna putih. Sedangkan Ishka kembali kedalam untuk membenahi penampilannya, sebelum menemui Jecob. Teman bule asal Australia.



***
Ishka meraih tas slempang berbentuk segi empat dengan motif bunga-bunga. Meraih smartphone, al-quran, tasbih digital, dan beberapa benda wajib lainnya ke dalam tas tersebut. Kemudian berkaca, dan pergi meninggalkan kamar. Ia menutup pintu kamar dan menguncinya. Melangkahkan kaki berjalan kearah tangga, dan menuruni tiap-tiap anak tangga yang ia jumpa. Matanya menyusuri ruangan mencari sosok berbadan besar tinggi dengan iris mata berwarna biru.


“Morning” sapa hangat sosok lelaki yang ia cari tersebut.


“Morning” balas Iskha dengan senyum ramah khas orang Indonesia.


Ia menghampiri Jeckob. Jeckob memandang wajah Iskha dengan lembut. Matanya seolah berkata inilah wanitaku. Sebelum pada akhirnya ia mempersilahkan Iskha keluar rumah duluan, sambil berbincang-bincang.


***
Angin masuk kedalam kamarnya melalui jendela yang terbuka dengan lebar. Terbang berkelana menyusuri tiap ruangan. Menerbangkan benda-benda ringan yang ia jumpai.


Srek.. 


Kertas putih tertahan pulpen bergerak karena ulahnya. Menjatuhkan sebuah gambar berukuran tiga R jatuh ke lantai.


Gambar dirinya sedang menghadap laptop dengan wajah serius dan sosok laki-laki di sebelahnya yang juga ikut serius memandang laptop di hadapnnya.


***


By: Deardian










Tidak ada komentar:

Posting Komentar