Bubur


Nyeri di bagian kepalanya semakin terasa. Pusing, ia bahkan tidak dapat melihat dengan jelas. Nyeri di bagian ulu hatinya, mendorong rasa mual kerap kali hadir.
Panas yang ia rasakan, namun menggigil kala terkena angin. Membuatnya hanya menghela nafas.



Sabar. Hanya itu yang bisa ia lakukan.

Nafasnya panas. Kepalnya terasa berat, makanpun ia tidak selera. Sementara perutnya perih merintih meminta diisi. Belum lagi di otaknya, segudang urusan harus segera di fix-kan.
Apa boleh buat, ia terpaksa memilih istirahat.

Dalam pejamnya, ia kembali teringat sosok yang pernah mengisinya. Mengingat beberapa hal yang sudah pernah terjadi. Dan mengandaikan hal yg belum pernah terjadi. Secara detail ia mengingatnya. Bukan hanya sekilas, namun setiap kata, setiap gerak, setiap huruf dan angka.

Sama seperti ia mengingat isi WA yang pernah ia baca. 
Hah... Ia tidak akan pernah lupa. Kesan saat ia membacanya pun tidak dapat ia bohongi, bahwa ia kecewa. Ia menghela nafas berat. Seolah berusaha melepaskan segalanya.

Bahkan saat sedang kurang sehat pun ia masih belum bisa melepaskan hal yang semestinya harus dilupakan. Batinya mengutuk atas tindakan bodohnya.

"Untuk apa memikirkan orang yang telah dan sedang bahagia di luarsana?

 Hei... 
Tolong jangan hanya fokus pada mereka.

Lihatlah dirimu sekarang!
Terkulai lemas tak berdaya.

 Seolah hidup hanya tentang cinta?

Hentikan Rena! Hentikan! 
Kau pantas bahagia pula.

Tak ada waktu bagimu untuk memikirkan hal yang tidak menjadi tujuanmu. Hentikan!!!..."

Dengan segala macam rasa sakit yang ia rasa, ia mencoba membuka matanya. Mengiyakan setiap kata hati yang mengumpatnya.

Sama sekali bukan dirinya. Karena Rena sesungguhnya sangat tangguh. Tak peduli soal cinta. Acuh! Hanya mengejar impian dan target yang telah ditetapkan.


KURUUKKK...

Perutnya mengeluarkan suara tanda lapar.
"Mau makan apa?" Tanya temannya.

"Bubur" jawabnya cepat.

"Bubur?" tanya temannya sambil mengangkat satu alisnya.

Rena mengangguk.

"Cobalah minta bantu temanmu untuk membelikan bubur. Jika aku pergi siapa yang akan menjagamu?"

Rena terdiam. Otaknya yang saat ini juga lelah terpaksa harus berpikir, untuk memikirkan siapa kiranya teman yang mau membantunya membelikan bubur.

Ia raih smartphone hitam miliknya. Mencari kontak dengan nama Anwar.



***

Saat matanya menemukan kontak dengan nama Anwar. Hatinya bergetar. Selama ini, ia hanya sibuk dan fokus pada hidupnya sendiri. Ia tidak pernah peduli dan belajar dari orang di sekitar.

Anwar memiliki kisah cinta yang tak biasa. Bagimana tidak? Ia mampu menyayangi sesorang sejak lama hanya dalam diamnya. Tidak pernah meminta di balas, tidak pernah protes saat di acuhkan, tidak pernah berteriak kala hatinya terluka.

Bahkan ia mampu mengikhlaskan wanita yang ia sayangi jika wanitanya menemukan pria yang lebih baik darinya. Yang sabar dan tetap tenang tanpa beriak kala wanitanya bahagia dengan pria lain. Ia yang akan dengan mudahnya tersenyum melihat wanitanya bahagia. Meskipun bukan karena dia.

Ia yang berkata " Abang cukup lihat dia bahagia, abang sudah bahagia."

Gila! 
Saat itu Rena hanya berkomentar "Gila". Namun siapa sangka si gila itu justru yang paling tenang mencintai tanpa dicintai.

"Karena cinta tidak meminta, Ren. Tapi memberi" itu yang ia katakan kala Rena protes tentang keadilan cinta.

Basi memang. Tapi itulah kenyataan cinta yang seharusnya Rena pahami. Bahwa mincintai itu seharusnya menenangkan. Bukan justru membuat hatinya kalut, dan terluka. Merasa tidak bahagia karena seseorang.

Bukan! Bukan seperti itu.

Tetapi seperti Anwar yang bahagia dengan melihat cintanya bahagia. Tetap bahagia meski cintanya bersama pria yang dicintainya. Ia tidak mengikat kebahagiannya pada cintanya. Ia justru membuat kebahagian tersendiri.

Karena dasarnya, mengikhlaskan dapat mendewasakan seseorang. Tak mudah, namun juga tak mustahil.

"Aku menyerahkan semuanya pada Sang Maha Cinta. Jadi aku hanya mencintainya saja. Jika ternyata berbeda, maka aku tak terluka. Toh itu yang terbaik." Jawab Anwar enteng.

BY: Zea Zareen




NB: Cerita di atas hanya Fiktif belaka. Mohon maaf apa bila merasa namanya di gunakan dalam tokoh cerita ini.

Posting Komentar

0 Komentar